Ternyata, penjelasan tentang Manifestasi Allah dalam rupa Tiga ‘Kitab’-Nya (Insaniyyah, Kauniyyah dan Qur’aniyyah) masih menyisakan ketidak-mengertian pada sebagian murid-murid Padepokan Kehidupan. Ketika ada kesempatan lagi, Sang Guru Bijakbestari pun memperoleh pertanyaan seputar topik itu,

M : Guru, tolong berikan contoh dari pengalaman Bapak, tentang suatu kejadian yang menyelaraskan 3 ‘kitab’ sekaligus: ‘kitab Kauniyyah, kitab Insaniyyah dan ‘kitab Quraniyyah agar pemahaman kami tentang ‘Kitab Manifestasi-Nya’ kami semakin jelas...
GB: Baiklah Anakku, ini memang bukan persoalan yang mudah dicerna, maka kita harus secara pelan-pelan mengunyahnya. Tak lupa kita harus memohon bimbingan-Nya, agar kita mampu mehaminya satu per satu. Sebelumnya untuk menjernihkan qalbu dan pikiran kita marilah kita baca Ummul kitab...Al-Fatihah...
Pernah ketika anakku baru berumur 11 tahun, suatu hari dia berhasil membohongi kami orang tuanya. Ketika saya mau menegurnya, tiba-tiba saya ingat bahwa ketika saya seumuran anak itu (belasan tahun juga) saya pun melakukan aksi ‘menipu’ orang tua saya, karena saya punya keinginan untuk bermain bersama teman-teman main di kampung. Mengingat peristiwa itu mulut saya tersenyum, dan dalam hati saya berkata,”Ya Allah, hamba mengerti terhadap ‘balasan’ yang Engkau kirimkan berwujud perilaku anak hamba hari ini. Engkau firmankan dalam Al-Quran-MU:” Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.”(TQS 99: 7-8). Hamba sadar akan kelakuan hamba saat muda, Astaghfirullah...”
Akhirnya saya nasihati anak saya dengan penuh kesabaran, namun tidak menghilangkan ketegasan dalam mengingatkan dari kesalahannya.